Perjalanan Surau Baru di Tanah Datar Menjadi Ponpes yang Mencetak Ratusan Santri

hermawan H ยท Sabtu, 05 September 2020 - 22:34 WIB
Perjalanan Surau Baru di Tanah Datar Menjadi Ponpes yang Mencetak Ratusan Santri
Para santri di Surau Baru belajar mengaji (Foto : iNews/Hermawan H).

TANAH DATAR, iNews.id - Darul Ulum yang terletak di Nagari Padang Magek, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat (Sumbar) dahulunya sebuah surau yang bernama Surau Baru yang kini menjadi pondok pesantren dengan memiliki ratusan santri. Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Ulum ini berdiri sejak tahun 1942 di bawah asuhan Tuanku Salim Malin Kuning (1917-1987).

Sejak dahulu, Minangkabau dikenal sebagai daerah Islamis. Ungkapan Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabbullah (ABS-SBK) sudah mengental di tengah masyarakat.

Ketua Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau Mas'oed Abidin mengatakan, tahun 1800-an, pemerintah Belanda mencatat di kepulauan  nusantara ini, terdapat sekolah partikulier terbanyak ada di Minangkabau. Masa itu jumlahnya hampir seribu sekolah, suatu hal yang mencengangkan di masanya.

"Darimana datangnya angka sejumlah itu, jangan lupa sekolah yang dimaksud Belanda itu yakni pengajian di surau-surau yang ada hampir di tiap nagari di Minangkabau," ujar Ketua Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau Mas'oed Abidin di Padang Magek, Sabtu (5/9/2020).

Mas'oed mengatakan, Surau dahulu tidak sama dengan musala sekarang. Dahulu surau itu tempat belajar segala ilmu. Mulai dari ilmu agama, berupa pembacaan Alquran dan pengetahuan agama lainnya, sampai pada ilmu adat berupa sejarah dan pepatah-petitih.

Lulusan surau inilah yang menjadi pemimpin di nagari. Mereka yang tamat surau masa itu paham dengan agama, mengerti adat dan sangat peka dengan kehidupan sosial. Kalaupun mereka yang bergelar datuk, maka orang juga menyebutnya dengan Ungku Datuk. Itulah kelebihan lulusan surau.

Pengajian-pengajian surau seperti itu, yang dulu bertebar di nagari-nagari, semakin lama jumlahnya makin menciut, dari seribu akhirnya menjadi seratus dan kini barangkali hanya tinggal hanya puluhan di seluruh Minangkabau ini.

Mas,oed Abidin menceritakan asal terbentuknya Surau Baru. Sebab, sebelumnya di daerah sekitar telah berdiri surau tempat mengaji, yaitu Surau Ateh Duyan (durian) atau disebut juga Surau Lurah. Letak tidak jauh dari lokasi Darul Ulum saat ini.

Surau Ateh Duyan diperkirakan aktif beberapa puluh tahun setelah Perang Paderi 1837. Masa itu murid-murid datang ke sini, ada yang berasal dari Taluk Kuantan, Riau dan beberapa daerah di Jambi.

Di awal tahun 1900, gemerlap Surau Ateh Duyan pudua sehingga anak Nagari Padang Magek yang lahir di awal tahun 1900 mencari surau di nagari-nagari lain, sebagai tempat menuntut ilmu.

"Salah seorang dari anak nagari Padang Magek yang pergi mengaji ke luar daerah itu yakni Salim yang kemudian bergelar Malin Kuning," ucapnya.

Pertama kali dia mengaji dengan Tuanku H Kahar di salah satu surau di Padang Magek. H Kahar berasal dari Taluk Kuantan, Riau. Masa itu H Kahar menetap di Padang Magek. Makam H Kahar ada di samping depan Masjid Tawakal, Padang Magek sekarang ini.

Selanjutnya, Salim Malin Kuning mengaji ke surau  Tuanku H Legan di Singkarak, Solok. Terus berlanjut ke Surau Belok di Selayo, Solok.  Kemudian dia  mengaji lagi dengan Tuanku Kali Tuo di Tanjung Balik, Solok.  Kemudian pindah ke Surau Tuanku Lubuk Pua di Pariaman. Berlanjut dengan Tuanku Mudo di Taluak Kuantan, Riau.

"Beberapa waktu kemudian pindah ke Surau Tuanku Kuning di Saruaso, Tanah Datar. Berakhir dengan Tuanku Bagindo di Sungai Sariak, Padang Pariaman," katanya.

Pada tahun 1942, dalam usia 25 tahun, Tuanku Salim Malin Kuning menetap dan menjadi Tuanku di Padang Magek. Sejak itu pula, beliau  mulai mengajar berbagai ilmu agama di surau kaumnya yang ketika itu baru saja dibuat.

"Itulah Surau Baru yang hingga kini masih tegak berdiri di lingkungan Ponpes Darul Ulum Padang Magek," katanya.

Dalam sejarahnya, pasang surut jumlah murid di Surau Baru tetap saja terjadi. Semula di tahun 1942, murid di surau ini, hanya empat orang. Dua di antaranya, Ungku Diar dari Nagari Aripan, Kabupaten Solok, Sumbar dan Ungku Abu Hanifah dari Teluk Kuantan, Riau.

Kemudian pada tahun 1950 pernah mencapai sekitar seratus orang. Pada masa itu Tuanku Salim Malin Kuning menamai perguruan/madrasah yang dipimpinnya dengan nama Darul Hafazah, yang artinya Kampung berkah atau kampung yang diberkahi.

"Dulunya di depan surau baru itu, tergantung papan putih dengan huruf Arab berwarna hijau berlapis merah dengan kata Madrasah Darul Hafazah. Itulah yang menandai adanya sekolah ini," ucapnya.

Masa Bergolak PRRI murid di Surau Baru menciut, tapi pada tahun 1965 kembali ramai. Setelah Peristiwa G 30 S PKI 1965, murid Surau baru kembali berkurang. Tapi pada awal tahun 1970-an kembali mencapai ratusan orang. Pada tahun 1980 pemenciut jadi 13 orang. Namun kemudian, tahun berikutnya kembali meningkat jadi puluhan orang.

"Pada tahun 1987, Tuanku Salim Malin Kuning meninggal dunia. Pendidikan dilanjutkan oleh murid-murid beliau yang sudah menjadi guru juga di Madrasah Darul Hafazah. Mereka di antaranya Tuanku Ali Nuddin, Tuanku Kakan, Tuanku Mahyudin, Tuanku M Nur, Tuanku Iskandar dan Tuanku Anwar Sutan Marajo selaku komando terdepan," katanya.

Tuanku Anwar bersama-sama pemuka masyarakat Padang Magek antara lain, Ramli Taher, Zainal Abidin dan Suhaili Yakkub, mencoba mengayuh biduk Surau Baru seperti yang dilaukan Tuanku Salim Malin Kuning. Tuanku Anwar dan Tuanku Iskandar mengganti Madrasah Darul Hafazah menjadi Pondok Pesantren Darul Ulum Padang Magek.

"Pada tahun 1994 Tuanku Anwar yang mengajar di Pesantren Darul Ulum diperkuat oleh Tuanku Jakfar Imam Mudo bersama keluarga.  Sejak Tuanku Jakfar dan keluarga mengajar di Ponpes Darul Ulum, murid-murid makin bertambah," katanya.

Sejak kedatangan Tuanku Jakfar. Buya Syahyuti Abbas mewakafkan dirinya untuk setia mengurus keberlangsungan belajar mengajar di Pesantren Darul Ulum. Bersama Syahyuti Abbas, Ponpes Darul Ulum mengembangkan tempat belajar hingga kini telah mempunyai sebuah gedung besar  tingkat dua.

"Dua buah lokal tempat belajar, selain itu, pondok pesantren ini juga sudah memiliki musala tempat salat berjamah santri lima waktu. Begitu juga sudah punya  MCK yang baik bagi santri," katanya.

Semua ini diperoleh berkat bantuan perantau, Pemerintah Kabupaten Tanah Datar, Pemerintah Provinsi Sumbar dan Depertemen Agama dari berbagai jajaran serta berbagai donatur lain bersifat pribadi.

Sama seperti mengaji di surau tempo dahulu, sampai kini di pesantren Darul Ulum Padang Magek, tidak dipungut bayaran. Santri akan diterima oleh pengurus pondok dengan tangan terbuka, asalkan ada orang yang menjadi walinya.

"Untuk kehidupan sehari-hari  santri mengumpulkan beras 20 liter dalam sebulan dan uang lauk pauk Rp80.000. Kemudian iyuran bayar listrik Rp35.000. Itu pun bagi yang sanggup. Bagi keluarga yang tidak mampu, tak usah membayar. Pihak pengurus akan mencarikan donaturnya," katanya.

Sejauh ini yang belajar di Darul Ulum, tetap diperlakukan sama. Tidak ada yang membedakan antara  yang mampu dengan yang tidak mampu. Mereka tidur di surau bersama-sama dengan guru. Memasak bersama-sama dengan teman, dan belajar bersama-sama dengan kawan-kawan.

"Kini santri Ponpes Darul Ulum berjumlah lebih kurang 300 orang. Semuanya diasuh Tuanku Jakfar Imam Mudo," katanya.


Editor : Tomi Wahyudi