Penampakan gerhana bulan total di Ancol. (Foto MNC Portal).

Pengurus Lembaga Dakwah PBNU Dr KH Fuad Thohari MA  dilansir dari laman dakwahnu.id menjelaskan, dalam ayat al-Qur’an tersebut disebutkan hanya ulil albaab (orang-orang yang berpikir dengan iman) yang mau merenungi makna gerhana dan mengambil hikmahnya.

Gerhana kadang tampak menakutkan. Secara perlahan bulan menjadi gelap sebagian, lalu selama beberapa saat bulan berada pada fase sangat gelap dan kemudian secara perlahan, kembali pada wujudnya cemerlang. Seolah bulan“dimakan” sesuatu yang luar biasa.

Saat cahaya bulan yang  awalnya terang, tiba-tiba menjadi gelap, munculah berbagai mitos di berbagai belahan dunia.

Sebagian masyarakat Arab percaya dengan mitos yang mengaitkan gerhana dengan pertanda buruk tertentu. Pada zaman Nabi SAW, saat putra Rasululah SAW, Ibrahim wafat,  terjadi gerhana Matahari Parsial di Madinah. Orang-orang lalu mengaitkan kematian Ibrahim dengan kejadian gerhana itu. 

Namun Rasulullah SAW membantahnya dan mengajarkan nilai-nilai tauhid untuk menyikapinya. Kalau pun ada ketakutan yang muncul, takutlah kepada Allah yang menciptakan gerhana, bukan takut kepada gerhananya atau mitos-mitos yang tidak jelas logikanya.

Di Jawa, Raksasa BathOro Kolo diyakini sebagai pemangsa balita di tanah Jawa. Ketika gerhana bulan terjadi, buru-buru para laki-laki membunyikan kentongan titir (bersahut-sahutan) mengajak warga untuk waspada. Beberapa sesepuh menghunus keris pusaka dan berjaga di depan rumah, sementara para nenek membantu ibu-ibu muda menyembunyikan balita-balita merek ke dalam gentong atau tempayan. Ada juga yang diletakkan di bawah kolong tempat tidur.


Editor : Nur Ichsan Yuniarto

Halaman Selanjutnya
Halaman :
1 2 3 4
BERITA POPULER
+
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network