Korban gempa Pasaman Barat, Sumbar, memilih bangun rumah ketimbang beli baju baru saat lebaran (Antara)
Antara

PASAMAN BARAT, iNews.id - Lebaran tinggal menghitung hari. Biasanya, orang-orang sibuk menyiapkan dan berbelanja baju baru untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriah.

Namun, kali ini berbeda. Korban gempa bumi di Pasaman Barat, Sumatera Barat (Sumbar) tak memikirkan baju baru untuk lebaran. Tahun ini mereka fokus untuk membangun rumah atau hunian sementara.

"Bantuan tidak kunjung datang. Saya beranikan diri membangun tempat tinggal berukuran 5x6 meter walaupun sebagian menggunakan uang pinjaman. Terpenting keluarga kami bisa berkumpul saat Lebaran nanti," kata salah satu korban gempa bernama Sarli (56), Jumat (22/4/2022).

Sarli menambahkan, dirinya memilih membangun rumah agar saat merayakan Lebaran nanti, keluarganya sudah memiliki rumah yang layak ditinggali karena rumah mereka sebelumnya runtuh akibat gempa magnitudo 6,1 pada 25 Februari 2022.

"Daripada berbaju baru, lebih baik kami berumah baru yang layak saat Lebaran meskipun dengan modal seadanya," kata dia.

Rumah barunya ini dibangun memakai rangka baja ringan, dinding GRC, beratapkan seng. Agar mengurangi pengeluaran, dia memilih pintu dan jendela bekas rumah yang runtuh serta membeli sedikit batu bata.

"Tukang yang mengerjakannya anak dan saudara kita yang sudah biasa merakit baja ringan. Saat ini atap rumah sudah terpasang dan pengerjaan rangka serta memasang pintu dan jendela," katanya.

Menurutnya, keberanian mereka membuat hunian ini karena bantuan tidak kunjung dapat. Jangankan hunian sementara, tenda darurat yang layak saja juga tidak ada.

Padahal, katanya berbagai macam petugas telah datang menemui mereka mendata dan meminta Kartu Keluarga. Namun sudah hampir dua bulan bantuan tidak kunjung ada.

"Selama ini kami dua keluarga atau lima orang tidur disudut-sudut rumah yang runtuh, dapur rumah dan warung yang ada di sebelah rumah," katanya.

Akibat bantuan yang tidak kunjung datang itu, mereka perlahan-lahan memperbaiki warung yang rusak dari uang bantuan relawan yang datang sehingga bisa kembali berjualan dan bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.

Selain itu juga meruntuhkan rumah yang rusak dan membangunnya kembali dengan modal seadanya dan uang pinjaman.

"Saat ini warung sudah selesai dan rumah sedang pengerjaan dengan biaya yang sudah habis sekitar Rp10 juta. Perkiraan nanti habis Rp18 juta," katanya


Editor : Nur Ichsan Yuniarto

BERITA TERKAIT