Salah satu spot air panas pada objek wisata Rimbo Panti. Satu, dari dua objek wisata yang dikelola Pemda Kabupaten Pasaman. (Antara)
Antara

PASAMAN, iNews.id - Kunjungan wisatawan ke Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat (Sumbar) pada tahun 2020 menurun 95 persen dari pada tahun 2019. Hal ini akibat pandemi Covid-19.

Kepala Bidang Pariwisata, Dinas Olahraga dan Pariwisata Pasaman, Ahmad Bukhari mengatakan, merosotnya kunjungan wisatawan itu langsung berdampak terhadap penurunan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Pasaman dari sektor pariwisata.

"Penurunan dari 29.561 orang pada 2019 menjadi 617 kunjungan pada 2020," kata Ahmad, Rabu (3/3/2021).

Ahmad menambahkan, roda perekonomian masyarakat juga ikut terganggu karena banyak masyarakat yang bergantung hidup dari berdagang dan membuka usaha lain seperti souvenir dan oleh-oleh di sekitar objek wisata.

"Penurunan kunjungan ini karena sejak Hari Raya Idul Fitri 2020 sampai Tahun Baru 2021 semua objek wisata di daerah itu ditutup untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19," katanya.

Penutupan tempat pariwisata itu atas instruksi pemerintahan pusat yang dijalankan hingga daerah, sehingga keadaannya hampir sama di seluruh Indonesia.

Penutupan objek wisata juga berdampak pada bisnis perhotelan, traveling, home stay dan rumah makan ikut mengalami penurunan omset.

Sebelum pandemi Covid-19 Pemerintah Kabupaten Pasaman bisa menarik PAD sebanyak Rp20 juta per tahun dari dua objek wisata yang dikelola Pemda yakni Taman Wisata Equator dan Rimbo Panti.

Pada kedua objek wisata itu setiap pengunjung dikenakan tarif Rp5.000 per orang. Bahkan setiap tahun diselenggarakan even nasional di kawasan Equator sehingga banyak wisatawan mancanegara berkunjung seperti dari Australia, Belanda, Malaysia dan Cina.

Sementara delapan objek wisata lain juga ramai namun yang mengelola adalah pihak swasta. Delapan objek wisata yang dikelola pihak swasta itu antara lain Puncak Tonang, Kabun Limau, Ambun Water Park, Puncak Koto Panjang, Bukit Kumayan, Puncak Teletubbies, Puncak Mohne dan Ikan Larangan.


Editor : Nur Ichsan Yuniarto

BERITA TERKAIT