Jualan Meski Lokasi Wisata Ditutup, Pedagang: Dapat Rp100.000 Sudah Sujud Syukur

Antara ยท Senin, 25 Mei 2020 - 15:07 WIB
Jualan Meski Lokasi Wisata Ditutup, Pedagang: Dapat Rp100.000 Sudah Sujud Syukur
Pedagang di lokasi wisata Pantai Gondoriah, Pariaman, Sumatera Barat (Antara)

PARIAMAN, iNews.id - Puluhan pedagang di objek wisata pantai Kota Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar) memaksakan diri berjualan. Padahal, lokasi berlibur di daerah itu ditutup oleh pemerintah agar menekan penyebaran virus corona atau Covid-19.

"Yang dilarang berdagang di sini kan pedagang musiman kalau kami tiap hari berdagang di sini," kata salah seorang pedagang pakaian pantai di objek wisata Pantai Gandoriah, Arsad (40) di Pariaman, Senin (25/5/2020).

Arsad menambahkan, meskipun dirinya tetap berdagang, namun pendapatannya tetap turun drastis. Dalam masa liburan biasanya transaksi bisa mencapai Rp500.000 hingga Rp1.000.000 per hari, sedangkan pada libur Lebaran biasanya mencapai Rp5 juta per hari.

"Namun sekarang tidak ada jual beli, hari ini saja baru satu pakaian. Padahal biasanya pada siang hari dalam kondisi libur Lebaran jual beli dagangannya sudah bisa mencapai Rp3 juta," keluhnya.

Arsad mengatakan, dia tetap berjualan demi memenuhi ekonomi keluarga meski lokasi wisata itu tutup. Dia berharap pengendara masih bisa memasuki kawasan objek wisata di daerah itu sehingga dia masih mendapatkan omzet dari hasil berdagang.

Senada dengan Arsad, salah salah seorang pedagang aksesoris bernama Sarma (30) mengatakan, jika tidak berdagang makan kondisi ekonominya turun drastis. Sarma sudah hampir lima tahun berdagang topi dan kacamata di kawasan objek wisata tersebut.

“Jadi lokasi berdagang saya ini sudah tetap, kalau tetap tidak dilarang. Sejak Ramadan sudah tidak dagang, tidak ada pendapatan,“ katanya.

Meski objek wisata di daerah itu ditutup, kata Sarma, namun dirinya harus tetap berdagang guna memenuhi perekonomian keluarga.

"Kalau Lebaran jual beli bisa mencapai Rp1,5 juta per hari, namun sekarang Rp100.000 aja sudah syukur," katanya.


Editor : Nur Ichsan Yuniarto