2 Pemuda di Bukittingi Ketahuan Bawa 11 Kg Ganja Usai Kecelakaan

Antara ยท Selasa, 28 Juli 2020 - 19:24 WIB
2 Pemuda di Bukittingi Ketahuan Bawa 11 Kg Ganja Usai Kecelakaan
Polisi tangkap dua pengedar ganja dari Bukittingi, usai keduanya kecelakaan motor (Antara)

BUKITTINGGI, iNews.id - Jajaran Polresta Bukittinggi menangkap dua pemuda membawa 11 kilogram ganja. Keduanya diketahui berinisial AM (24) dan OAP (19).

Wakapolres Bukittinggi Kompol Indra Sandy mengatakan, terbongkarnya kedua pemuda itu membawa ganjar setelah mereka mengalami kecelakaan di Jalan Lintas Bukittinggi-Medan, tepatnya di Kecamatan Palupuah, Kabupaten Agam.

Indra menambahkan, insiden kecelakaan itu terjadi Senin (27/7/2020). Saat itu, keduanya menggunakan sepeda motor dari Panyabungan, Mandailing Natal, Sumatera Utara, menuju Payakumbuh.

"Mereka kecelakaan di Palupuh," kata Indra, Selasa (28/7/2020).

Keduanya kemudian dibawa ke IGD Rumah Sakit Achmad Muchtar (RSAM). Kemudian dari pihak rumah sakit menghubungi petugas piket Satuan Lalu Lintas Polres Bukittinggi.

Saat itu petugas piket Satlantas langsung menuju ke RSAM untuk mengecek korban. Di rumah sakit, petugas keamanan RSAM juga menyerahkan tas milik korban kecelakaan.

"Ketika diperiksa, di dalam tas didapati dua paket mencurigakan berbungkus lakban kuning diduga ganja sehingga langsung menghubungi bagian Satuan Reserse Narkoba Polres Bukittinggi," katanya.

Usai informasi itu, kata Indra, petugas Reserse Narkoba menyusul mendatangi RSAM untuk memastikan laporan dan memintai keterangan dua korban kecelakaan.

"Saat ditanyai kedua korban kecelakaan mengakui bahwa barang itu adalah milik mereka," katanya.

Ganja yang dijemput dari Panyabungan direncanakan akan diedarkan di wilayah Payakumbuh.

Saat ini, kata Indra, pihaknya masih memerlukan informasi lebih lanjut untuk pengembangan kasus tersebut dari OAP yang masih dirawat di RSAM karena patah kaki kiri.

Atas perbuatannya, AM dan OAP dijerat Pasal 114 Ayat 2 juncto Pasal 111 Ayat 2 Undang-Undang 35/2009 dengan ancaman kurungan enam sampai 20 tahun dan denda Rp1 miliar.


Editor : Nur Ichsan Yuniarto