HUT ke-75, Sumbar Diminta Belajar Konsep Pembangunan ke Singapura dan Bhutan

Antara ยท Jumat, 02 Oktober 2020 - 15:09:00 WIB
HUT ke-75, Sumbar Diminta Belajar Konsep Pembangunan ke Singapura dan Bhutan
Mantan Mendagri Gamawan Fauzi saat jadi pembicara di Sidang Paripurna Istimewa HUT Sumbar ke-75. (Foto: Antara)

PADANG, iNews.id - Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) baru saja memasuki usia ke-75. Provinsi ini diharapkan terus menjalankan pembangunan dengan belajar konsep pembangunan dari Singapura dan Bhutan yang konsisten mengoptimalkan kelebihan dan mengeliminasi kelemahan untuk memajukan daerah.

Hal ini disampaikan mantan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi dalam Rapat Paripurna Istimewa Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Sumbar di Padang, Kamis (1/10/2020). Menurut dia, pembangunan bukanlah mengambil atau memindahkan sebuah konsep dari negara atau daerah yang sudah terbukti maju dan memindahkan ke Sumbar, namun harus disesuaikan dengan kondisi yang dimiliki. Daerah memiliki kondisi, situasi, potensi, peluang, tantangan dan hambatan yang berbeda.

"Sumbar dapat menarik pelajaran dari Singapura dan Lee Kuan Yew muda yang baru menamatkan sekolah di Inggris dan melakukan analisa yang sungguh-sungguh mencari cara memajukan Singapura," ujarnya.

Menurut dia, Lee belajar dari New York sebagai kota bisnis terbesar di dunia dan Frankfurt sebagai kota perbankan di Eropa. Kemudian Singapura merumuskan kebijakan dimulai dari industri perbankan dan perdagangan dengan memperbaiki kekurangan model perbankan dan bisnis perdagangan.

"Singapura konsisten dengan konsepnya sehingga memetik hasil seperti sekarang," katanya.

Dia menilai sejak awal orde baru, Sumbar yang memiliki Kota Padang sebagai ibu kota tidak semegah ibu kota provinsi lain. Namun hal itu bukan segalanya, karena tujuan pembangunan kemegahan maka bangunan besar seperti hotel, perkantoran dan gedung-gedung itu bukan milik masyarakat setempat.

Apabila pusat perbelanjaan, hotel, tempat hiburan yang berskala besar tidak dimiliki masyarakat Sumbar, maka uang yang dihasilkan akan mengalir kepada pemilik modal yang ada di luar Sumbar, bahkan dari luar negeri. Kebijakan yang dilakukan sudah tepat karena semua dimiliki masyarakat Sumbar dan membuat uang beredar serta dinikmati masyarakat provinsi ini.

"Saya merasa bangga dan banyak masyarakat luar Sumbar yang kagum karena di sini tidak tumbuh mini market yang punya jaringan internasional, namun lokal yang dikelola masyarakat. Ini bukan diskriminatif, tapi kebijakan melindungi usaha ekonomi lokal," katanya.

Menurut dia, hal yang perlu dilakukan saat ini memberikan kemudahan bagi pengusaha lokal dan mengajak para perantau yang bermodal kuat berinvestasi di Sumbar.

Dia juga mengajak pemerintah daerah belajar ke sebuah negara kecil Bhutan yang menjaga nilai tradisi mereka. Negara ini terdiri atas hutan dan bukit serta berlembah yang dipelihara kelestarian hutannya. Dalam kesehariannya, masyarakat Bhutan selalu menggunakan pakaian tradisional namun mereka tidak menutup diri dari teknologi dan modernisasi.

"Kemajuan teknologi dan modernisasi tidak mendegradasi nilai tradisi mereka dan negara ini menjadi negara dengan indeks kebahagiaan tertinggi di Asia," kata Gamawan.

Gamawan juga menilai, Sumbar akan selalu menghadapi tantangan yang berat dalam memelihara tradisi dan nilai luhurnya. Masyarakat Sumbar memiliki tradisi bersekolah dan terbuka pada kemajuan, namun kemajuan tidak boleh bertentangan dengan nilai agama dan adat.

"Kita buang yang buruk dan terima yang baik sehingga kemajuan diraih sebagai berkah ilmu pengetahuan dan wawasan luas dalam landasan iman yang kuat," kata Gamawan.

Editor : Maria Christina