Melihat Nagari Pandai Sikek, Pusat Kerajinan Ukiran Minangkabau

Agung Sulistyo ยท Selasa, 02 Juni 2020 - 17:05 WIB
Melihat Nagari Pandai Sikek, Pusat Kerajinan Ukiran Minangkabau
Seorang pengrajin ukiran sedang mengerjakan berbagai motif ukiran khas Minang ( Foto : Agung Sulistyo)

PADANG, iNews.id – Nagari Pandai Sikek Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat (Sumbar) merupakan salah satu penghasil kerajinan ukiran di Indonesia. Tidak hanya jenis pajangan atau relief, perajin di sini juga mampu membuat ukiran untuk bangunan rumah dan perkantoran.

Hasil ukiran Pandai Sikek yang dibuat oleh tangan-tangan terampil perajin sudah dipasarkan hingga ke luar negeri. Karya yang dibuat terinspirasi dari alam. Selain itu, kemampuan dari pengukirnya sudah diwariskan turun-temurun.

Sejak dulu Pandai Sikek memang telah terkenal sebagai pusat kerajinan tenun dan ukiran Minangkabau. Sanggar ukiran Chan Umar merupakan salah satu tempat kerajinan ukiran kayu tradisional yang terdapat di Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar.

Di sini, para pengukir membuat ukiran dengan teknik tingkat tinggi dan kerumitan yang mampu menghasilkan karya nan menawan dan bernilai seni tinggi.

Berbagai jenis ukiran kayu dapat ditemukan di sini, termasuk yang dipadukan dengan aneka perabot seperti, tempat tidur, kursi, lemari. Bahkan, hiasan yang sering kita jumpai di bangunan-bangunan kantor pemerintahan di Sumbar.

Sanggar ukiran Chan Umar Pandai Sikek ini menjadi salah satu dari sedikit warisan budaya asli Minangkabau yang masih bertahan. Keanggunan filosofi Minangkabau yang dipahatkan pada kayu-kayu surian, selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan domestik maupun mancanegara untuk mengunjungi sanggar ukiran ini.

Hasnil yang merupakan perajin ukiran mengatakan, motif-motif ukiran memiliki nama dan makna tersendiri sesuai dengan karakteristik adat istiadat Minangkabau.

“Ukiran Pandai Sikek ini juga terkenal hingga mancanegara. Pesanan-pesanan seperti interior, kotak-kotak penyimpanan, dan suvenir bermotif Minang digemari masyarakat internasional,” kata Hasnil, Selasa (2/6/2020).

Sayangnya, kecintaan terhadap seni ukiran Minangkabau tampak merosot seiring perubahan zaman. Jika dulu banyak ditemukan pengukir di daerah Pandai Sikek, kini jumlahnya jauh berkurang. Hanya tinggal beberapa saja yang masih aktif.

“Faktor regenerasi juga menjadi penyebab banyak sanggar-sanggar ukiran khas Minang yang hilang,” katanya.

Pertimbangan ekonomis menjadi alasan utama seni ukiran di nagari itu tidak diminati lagi karena waktu pengerjaannya membutuhkan waktu lama. Ini tidak sebanding dengan penghasilan yang diperoleh perajin. Kini, banyak generasi muda dari Pandai Sikek yang lebih memilih merantau ke luar nagari.

“Banyaknya generasi muda yang merantau keluar nagari karena sudah tidak adanya lagi minat pada seni ukir,” katanya.

Namun, saat ini masyarakat Minangkabau sudah mulai lagi melirik kebudayaan seni ukir. Ini terlihat dari berbagai kegiatan pelestarian yang dilakukan oleh beberapa masyarakat Minang yang peduli akan kebudayaan.

“Kepedulian ini sangat diperlukan agar seni ukiran khas Minangkabau ini tetap bertahan di era globalisasi sekarang ini,” kata Hasnil.


Editor : Tomi Wahyudi