Tawarkan SPG Rokok Lewat WhatsApp, Muncikari Asal Padang Ditangkap Polisi

Budi Sunandar · Kamis, 23 Juli 2020 - 11:09:00 WIB
Tawarkan SPG Rokok Lewat WhatsApp, Muncikari Asal Padang Ditangkap Polisi
Muncikari di Padang yang menawarkan SPG rokok untuk prostitusi online (Budi Sunandar/iNews)

PADANG, iNews.id - Polda Sumatera Barat (Sumbar) membongkar kasus dugaan prostitusi online yang melibatkan anak di bawah umur. Dalam kasus ini, polisi mengamankan seorang pria berinisial DEP (26) yang diduga muncikari.

Panit I Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Ditreskrimum Polda Sumbar Doni Rahmadian mengatakan, selain DEP, pihaknya juga mengamankan dua wanita muda dan satu anak di bawah umur yang diinapkan di hotel.

Doni melanjutkan, kasus prostitusi online di bawah umur ini dibongkar setelah polisi mendapat laporan dari masyarakat. Berebekal laporan itu, polisi melakukan penyelidikan dan pengintaian di hotel berbintang di Padang.

"Hasilnya, pelaku ditangkap di salah satu hotel berbintang di Padang saat menerima setoran dari dua wanita usai melayani tamu," kata Doni, Kamis (23/7/2020).

Barang bukti prostitusi online di Padang (Budi Sunandar/iNews)
Barang bukti prostitusi online di Padang (Budi Sunandar/iNews)

Dari hasil pemeriksaan, pelaku beroperasi melalui chat di WhatsApp. Dia menawarkan dua wanita yang merupkan SPG produk rokok di kawasan Padang.

"Pelaku menawarkan wanita lewat Whatsapp dengan harga Rp800.000 untuk sekali kencan. Hasilnya nanti akan dibagi dua," kata dia.

Selain menangkap pelaku, polisi menyita barang bukti berupa uang tunai Rp1 juta, alat kontrasepsi, kunci kamar dan ponsel.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat dengan Pasal 2 Juncto Pasal 17 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dan atau Pasal 88 Juncto Pasal 75 I Undang-Undang Nomor 17 tahun 2016 tentang Penetapan Persatuan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.

Pelaku terancam dipenjara di atas lima tahun serta ditambah 1/3 dari ancaman hukuman pidana karena korban merupakan anak di bawah umur.


Editor : Nur Ichsan Yuniarto